HOMO HOMONI SOCIUS VS HOMO HOMONI LUPUS

OLEH: SYAHRUDDIN ZEN

Malang: 14 Juli 2013

 

Dalam dunia ini banyak yang tidak mengerti bahwa hidup ini haruslah berbagi (snada)

Lantunan nasyid yang luar biasa menjadi sebuah insfirasi bagi kita semua, insan manusia yang hidup didunia dengan segala keangkuhannya, berjalan diatas bumi, menikmati indahnya segala ciptaan tuhan yang maha kuasa, gunung, lautan, dan keindahan yang lain, bak ukiran yang ada dalam hayalan manusia, ya…  hanya hayalan saja, tak mampu berbuat, tak mampu mengembalikan sesuatu kepada keadaan sebelumnya, hanya mampu menikamati, memberikan kritikan dan ucapan, “SEAINDAINYA….. “

Itulah kehidupan, betapa  banyak orang yang tidak mengerti atau tidak pernah mau mengerti, untuk apa ia diciptakan, kemana dia akan pergi, seolah-olah ia abadi seperti sang penciptanya,  menganggap apa yang ia lakukan benar, boleh jadi apa yang ia lakukan benar tapi, siapa yang tau, apa yang bisa mengukur kebenaran, siapa yang menilainya, penilai yang terbaik, yang tidak pernah salah selain sang Khalik.

Tidakkah kita mau mengingat dan merenungkan, siapa kita, homo  homoni socius kah, atau zon politicon kah, atau apakah kita homo homoni lupus yang  mirip dengan hewan karnivora yang rela memangsa temannya sendiri demi memenuhi kebutuhan perutnya. Ya…. human homoni socius katanya, apakah hanya sekedar katanya atau benar adanya, bahwa kita hidup membutuhkan orang lain, manusia yang menyandang gelar sebagai  makhluk sosial, rela berbagi dengan beraneka ragam perilaku yang berbeda, atau dari komunitas yang lain.

Manusia yang berakal pasti mengatakan iya, saya rela berbagi, karena saya membutuhkan teman, kawan dan komunitas, tapi bagimana dengan yang lain, yang hanya bisa saling menyakiti, seolah dunia adalah miliknya sendiri, wah… luar biasa ini lebih parah dari orang  yang sedang kasmaran ia menganggap dunia milik berdua, masih mendingan, sedang yang lain hanya  ngontrak harus membayar sewa, tapi bayar pada siapa..?

Penindasan, atau lantunan suara nyanyian bang Haji mungkin layak untuk kita “yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin”, bahkan sebenarnya kita haruslah malu dengan julukan yang diucapkan oleh Iwan Fals “manusia Setenga dewa”… waduh terlalu muluk, berlebihan, ya… berlebihan karena sesungguhnya kita bak seekor serigala yang lapar mencari domba yang terpisah dari gerombolannya, ya siap melahap dengan mata merah dan mulut menggangga, sikat dulu urusannya belakangan.

Marilah kita kembali merenungkan dengan khidman  dalam dan benar-benar merenung, bahwa kita membutuhkan orang lain dalam hidup ini, kita tidak akan pernah bisa hidup sendiri, lihatlah banyak saudara kita yang masih membutuhkan uluran tangan kita, mereka tidak membutuhkan apa apa- hanya pengakuan bahwa aku juga saudaramu, ya aku saudaramu dan kamu saudaraku.

Aa Gym pernah mengatakan marilah kita mulai untuk berbenah, mulailah dari diri sendiri, mulai dari sini dan mulai dari sekarang,  gampang bukan… mmmm,,,, benar gampang untuk diucapkan tapi implikasinya ntar saja lah kalau sudah tua, ya saat sudah tua, memang benar sih kita membutuhkan orang lain, karena keangkuhan sudah hilang, tak ada lagi yang bisa dibanggakan, hilang bersama berlalunya waktu, atau ntar kalau malaikat maut mau datang untuk mengantar surat dari sang Khaliq bahwa hidupmu telah berakhir, itu semua terlambat, sangat terlambat..

Jadi marilah kita berbenah sebelum semuanya berahir, ucapan Aa Gym bukan hanya sebuah kata-kata tapi harus diamalkan. Amalkan dan amalkan.

Kata bijak hari ini:

“kita dapat berenang di air seperti layaknya seekor ikan, kita juga dapat terbang di udara layaknya seekor burung, sekarang.. marilah kita belajar berjalan diatas permukaan bumi layaknya manusia”

***

 

 

Analisa Pemamfaatan Weh Pesangan

Analisa Pemanfaatan Krueng Peusangan

Keberadaan sungai Kr. Peusangan di wilayah Kabupaten Aceh Utara dan Kabupaten Aceh Tengah, merupakan sumber daya alam yang sangat potensial dan bermanfaat bagi pengembangan pembangunan di kedua wilayah, khususnya untuk wilayah Kabupaten Aceh Utara, sungai tersebut dimanfaatkan untuk banyak keperluan/kegiatan antara lain: untuk irigasi sumber air baku industri, sumber air minum/bersih dan pertambangan rakyat/galian C (pasir dan kerikil). Di masa mendatang sungai tersebut akan dimanfaatkan juga sebagai sarana Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), yaitu di hulu sungai atau tepatnya pada outlet Danau Laut Tawar di Kabupaten Aceh Tengah.

Sungai Kr. Peusangan ini juga mempunyai Daerah Aliran Sungai (DAS) yang cukup luas dalam dua wilayah kabupaten yaitu sebagian besar DAS bagian hulu terletak di Daerah Kabupaten Aceh Tengah dan sebagian DAS hulu serta DAS hilir terletak di Daerah Kabupaen Aceh Utara. Sungai ini mempunyai debit air agak besar dan stabil dari pada sungai-sungai yang lain yang letaknya berdekatan dengan Zona lndustri Lhokseumawe. Pada awalnya sungai ini mempunyai kondisi DAS yang cukup baik, dimana di wilayah DAS hulu terdapat hutan yang cukup lebat dan potensial sehingga sungai tersebut selalu mempunyai debit air yang lebih besar walaupun pada musim kemarau, sehingga dapat dimanfaatkan oleh petani sebagai sarana irigasi untuk mengairi sawah (irigasi desa).

Sejak dibukanya Zona Industri Lhokseumawe, pembangunan di wilayah Kabupaten Aceh Utara maju begitu pesat, sehingga masyarakat dan pelaku pembangunan memanfaatkan segala sumberdaya yang ada untuk berpacu mengikuti perkembangan pembangunan yang terjadi. Salah satu perkembangan yang menonjol adalah perkembangan ekonomi masyarakat, dimana semua pelaku bisnis berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan usahanya yaitu dengan memanfaatkan segala sumberdaya alam yang ada, antara lain sumber daya hutan dan sumber daya air.

Hutan menjadi sangat penting bagi peningkatan pendapatan masyarakat maupun bagi pengusaha kayu karena dari hutan banyak menghasilkan bahan kayu sabagai sumber bahan komoditas ekspor maupun bahan pembangunan dalam negeri sehingga masyarakat dan pengusaha kayu berlomba-lomba menebang hutan untuk mengambil hasil kayunya. Dan selain mengambil hasil hutan juga tidak kurang mereka menebang hutan dengan alasan membuka perkebunan (kelapa sawit, coklat) ataupun membuka pemukiman barn (perumnas, RSS dan Pabrik). Akibat dari itu semua keberadaan hutan di daerah DAS Kr.Persangan semakin hari semakin berkurang, sehingga melapaui syarat minimum luas hutan di suatu wilayah (30 %). Disamping itu sejak pabrik Kertas (PT. KKA) beroperasi penebangan kayu semakin meningkat terutama kayu finus sebagai bahan baku industri kertas.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Kantor Dinas Kehutanan Propinsi Daerah Istimewa Aceh, menunjukkan bahwa dari tahun 1982 sampai dengan tahun 1995 telah terjadi pengurangan hutan secara drastis sebesar 42.755 ha (33,85 %) atau rata-rata 3.289 ha pertahun. Pengurangan luas areal hutan tersebut telah melebihi harus minimum luas hutan yang diizinkan yaitu 30 % dari luas DAS, sehingga ini dapat memberi dampak negatif bagi kehidupan dan persediaan air sungai Kr.Peusangan tersebut terutama untuk keperluan pertanian, industri dan air bersih/minum.

Air sungai Kr.Peusangan pada mulanya dimanfaatkan oleh petani untuk mengairi sawahnya (irigasi desa), sejak tahun 1980 di alur sungai tersebut dibangun irigasi teknis yaitu irigasi Pante Lhong untuk mengairi sawah seluas 8000 ha lebih. Air sungai ini juga mulai dimanfaatkan oleh proyek Fital (PT.Arun NGL, PT. PIM, PT.AAF, PT. Kertas Kraft Aceh dan PT.Aeromatik) dalam lingkungan Zona Industri Lhokseumawe sebagai air baku dan air bersih/minum. Pemanfaatan air baku untuk industri pada umumnya dimanfaatkan untuk air permbersih/penggelontor kotoran, air pemadam kebakaran, air untuk pendingin dan juga digunakan sebagai air baku khususnya untuk pabrik pupuk (PT. PIM, PT. AAF), sedangkan yang dimanfaatkan untuk air bersih/minum digunakan untuk kantor/pabrik, komplek perumahan, rumah penduduk di wilayah Kota Administratif Lhokseumawe dan sekitarnya.

Untuk mengetahui lebih lanjut kondisi sungai Kr. Peusangan telah dilakukan penelitian tentang: (a) Pengaruh potensi hutan terhadap debit air sungai, (b) Pengaruh kondisi debit air sungai terhadap pemanfaatannya dan (c) Pengaruh pemanfaatan air sungai terhadap peningkatan pendapatan daerah.

Dari data time series yang dikumpulkan dilapangan yang kemudian dianalisa dengan mengunakan Model Regresi Berganda dan Model Logaridma diolah/diproses dengan program shazarn, diperoleh hasil sebagai berikut:

  1. Telah terjadi penurunan luas areal hutan/potensi hutan seeara drastis dari tahun 1982 sampai dengan tahun 1995 sebesar 42.755 ha atau 3.289 ha setiap tahunnya. Pengurangan luas areal hutan tersebut berpengaruh terhadap keberadaan debit air sungai yaitu mempunyai debit yang besar (banjir) di musim hujan dan mempunyai debit air yang kecil di musim kemarau. Ini disebabkan kerena hutan merupakan sarana penghambat air hujan mengalir ke sungai sehingga memberi kesempatan bagi air hujan yang jatuh di atas permukaan tanah meresap ke dalam tanah menjadi aliran air tanah dan menambah persediaan air tanah yang nantinya akan menjadi sumber air sungai di musim kemarau akan datang, dengan kata lain potensi hutan berpengaruh nyata terhadap debit air sungai terutama di musim kemarau, dimana jika potensi hutan meningkat 10 %, debir air sungai pada musim kemarau juga meningkat 17,5 %, dan sebaliknya. Untuk menghambat kerusakan hutan/pengurangan luas hutan di wilayah DAS Kr.Peusangan, perlu mendapat perhatian dari pihak Pemerintah Daerah Tingkat I/II dengan instansi terkait, agar meninjau kembali tentang izin Hak Pengusaha Hutan (HPH) maupun dalam memberi/mengeluarkan HPH baru, sehingga pengurangan potensi hutan tidak berlanjut. Disamping itu perlu adanya usaha pencegahan/pengawasan kerusakan hutan oleh masyarakat baik waktu membuka lahan pertanian baru maupun mengmbil hasil hutan, sehingga tidak menimbulkan kebakaran hutan atau kerusakan lingkungan lainnya. Disamping itu semua, tidak kalah penting agar Pemerintah Daerah Tingkat I/II perlu meningkatkan kegiatan konservasi tanah dan air, supaya kerusakan hutan/pengurangan potensi hutan dapat diganti untuk masa-masa mendatang, sehingga kekuatiran akan kekurangan sumber air tidak akan terjadi.
  2. Pemanfaatan air untuk irigasi air baku untuk industri dan air bersih/minum secara bersama-sama mempengaruhi debit air sungai/daya dukung wilayah, tetapi secara individu pemanfaatan air untuk irigasi yang berpengaruh nyata terhadap debit air sungai ini dapat dilihat dari hasil penelitian menunjukkan variabel luas tanam berpengaruh nyata terhadap variabel debit air sungai dengan tingkat kepercayaan 99,5%, sedangkan untuk variabel jumlah industri dan pemakai air bersih/minum tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap keberadaan debit air sungai ini dapat terlihat dengan t-test < t-tabel. Ketidak signifikan pamanfaatan air untuk industri dan air bersih/minum, disebabkan karena kenyataannya menurut data time series yang ada di lapangan menunjukkan bahwa walaupun debit air sungai terus menurun akibat pengurangan potensi hutan, namun jumlah industri dan pemakai air minum yang memanfaatkan sumber air tersebut terus meningkat sesuai dengan perkembangan industri dan penduduk. Keberadaan debit air sungai sampai saat ini (1997), ternyata masih mampu memenuhi kebutuhan air tersebut, sehingga penurunan debit air belum berpengaruh terhadap pemanfaatan air di atas.
  3. Sungai merupakan sumberdaya alam yang banyak memberikan manfaat bagi manusia seperti sebagai prasarana transportasi air, pemanfaatan airnya, dan pertambangan galian C. Khusunya untuk pemanfaatan air sungai Kr. Peusangan untuk irigasi industri dan air bersih, tentu telah dapat memberikan peran yang besar terhadap perkembangan sosial ekonomi seperti meningkatnya Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB), Retribusi Daerah dari pemakaian air sungai dan Laba Perusahaan Daerah atas penjualan air bersih/minum. Dengan meningkatnya penerimaan dari ketiga sumber tersebut di atas, dengan sendirinya ikut memberikan kontribusi yang besar terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), ini menunjukkan bahwa pemanfaatan air sungai Kr.Peusangan berpengaruh nyata terhadap peningkatan pendapatan daerah. Dari basil penelitian menunjukkan bahwa secara bersama-sama variabel PDRB, pendapatan atas air baku untuk industri (Retribusi Daerah) dan pendapatan atas air bersih/minum (Laba Perusahaa Daerah) memberikan pengaruh yang nyata atas meningkatnya Pendapatan Asli Daerah. Tetapi secara individual peningkatan PDRB dan pemanfaatan air untuk industri memberi pengaruh positif dan nyata bagi peningkatan PAD, sedangkan pemanfaatan air untuk air minum/bersih (Laba Perusahaan Daerah) tidak berpengaruh nyata bagi peningkatan PAD, ini disebabkan keuntungan/laba dari pemanfaatan air bersih/minum masih sangat kecil dan tidak menunjukan peningkatan yang stabil, sedangkan PAD terus meningkat setiap tahunnya. Dalam hal ini agar penerimaan dari pemanfaatan air minum/bersih (laba perusahaan daerah) dapat memberikan pengaruh yang nyata terhadap PAD, maka managemen pengelolaan dan tehnologi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) harus ditingkatkan.

Mudah mudahan dengan adanya analisa diatas nantinya dapat membantu pemerintah daerah untuk lebih Arif dan bijaksana dalam mengambil keputusan dan kebijakan yang ada, sehingga nantinya dapat bermanfaat bagi masyarakat yang ada, Amin…

Aceh Tenggara Negeri Louser yang Perlu Komitmen

Secara tofografi, Aceh Tenggara dikelilingi oleh daerah perbukitan dan pegunungan. Wilayah ini berada pada ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut, yakni bagian dari pegunungan Bukit Barisan. Taman Nasional Gunung Leuser yang merupakan daerah cagar alam nasional terbesar pun terdapat di kabupaten ini.

Kabupaten Aceh Tenggara kaya akan potensi wisata alam, di antaranya adalah Sungai Alas yang sudah dikenal luas sebagai tempat olah raga arung sungai yang sangat menantang. Setelah mengalami gejolak konflik beberapa lama, Bupati dan Wakil Bupati Aceh Tenggara (Hasanuddin Beruh dan Syamsul Bahri) pada 1 September 2007 dilantik oleh Gubernur Aceh.

Ditinjau dari potensi pengembangan ekonomi, wilayah ini termasuk zona pertanian. Potensi ekonomi daerah berhawa sejuk ini adalah kopi dan hasil hutan. Dalam bidang pertambangan, Aceh Tenggara memiliki deposit bahan galian golongan-C yang sangat beragam dan potensial dalam jumlah cadangannya.

Kabupaten ini terdiri atas 16 kecamatan yaitu Babul Makmur, Babul Rahmat, Babussalam, Badar, Bambel, Bukit Tusam, Darul Hasanah, Lawe Alas, Lawe Bulan, Lawe Sigala-Gala, Semadam, Tanoh Alas, Ketambe, Leuser, Lawe Sumur, Deleng Pokhkisen.

Aceh Tenggara memiliki komposisi penduduk yang terdiri atas 11 etnis yang berbeda, yaitu Alas, Gayo, Batak, Pakpak, Singkil, Mandailing, Aceh, Karo, Padang, Jawa, dan Nias. Tak hanya itu, keberagaman keyakinan pun terlihat di daerah ini, terutama didominasi oleh Islam dan Kristen.

Keunikan yang dimiliki oleh Aceh Tenggara tersebut membuat kehidupan setiap elemen masyarakatnya sangat berwarna dan bervariasi. Setiap unsur masyarakat yang berbeda kebudayaan saling berbaur dan saling mempengaruhi antara satu kebudayaan dengan kebudayaan yang lain.

Walaupun memiliki keanekaragaman dari segi etnis dan agama, tidak pernah terjadi konflik antarpenduduk yang diakibatkan oleh perbedaan tersebut. Inilah yang membuat wilayah perbukitan tersebut terkesan damai dan asri heterogen.

Dalam buku Sanksi dan Denda Tindak Pidana Adat Alas (Dr. Thalib Akbar, M.Sc, 2004), disebutkan etnis Alas memiliki sejumlah marga. Ia merindikan ada marga Bangko, Deski, Keling, Kepale Dese, Keruas, Pagan, dan Selian, yang kemudian hadir lagi marga Acih, Beruh, Gale, Kekaro, Mahe, Menalu, Mencawan, Munthe, Pase, Pelis, Pinim, Ramin, Ramud, Sambo, Sekedang, Sugihen, Sepayung, Sebayang, dan Tarigan.

Atas dasar etiologi kehadiran berbagai etnis di tanah Alas, jelaslah bahwa tidak ada satu orang pun yang dapat hidup berdiri sendiri, begitu juga dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten ini. Semua pihak perlu terlibat baik secara langsung maupun tidak. Keberagaman suku dan keyakinan akan menjadikan keunikan tersendiri bagi masyarakat di sana dalam membangun daerahnya.

POTENSI Sumber Daya Alam

Panorama yang menakjubkan di Kabupaten Aceh Tenggara menjadikan wilayah ini kaya sumber daya alam. Daerah ini dikelilingi oleh wilayah perbukitan dan pegunungan yang sangat indah. Ia merupakan zona inti dari Kawasan Ekosistem Gunung Leuser yang menjadi salah satu hutan paru-paru dunia. Kawasan ekosistem ini sangat dilindungi dan menjadi perhatian besar dunia internasional.

Aceh Tenggara memiliki luasan hutan lindung yang cukup terjaga keasriannya dan menjadi sumber manfaat yang utama untuk kesinambungan ekosistem di sekitarnya. Hutan lindung ini menyimpan kandungan air yang besar, menyimpan berbagai kekayaan alam, baik flora, fauna, maupun batu-batuan langka. Kondisi hutan lindung sebagian besar masih terjaga dengan baik. Pemerintah Daerah Aceh Tenggara maupun pusat memiliki komitmen melindungi daerah hutan ini agar terhindar dari perambahan liar oleh oknum-oknum yang merusak hutan.

Kawasan ekosistem ini dihuni oleh berbagai jenis flora fauna yang sangat langka. Beberapa spesies bahkan tidak terdapat di hutan lain di Indonesia. Jenis flora yang ada di kawasan hutan ini adalah bunga bangkai, anggrek liar, kantong semar, edelweis, raflesia acehensis, dan lain-lain. Untuk jenis fauna yang saat ini masih ada di antaranya orang utan, gajah, harimau sumatra, siamang, rusa, monyet, dan tapir.

Selain potensi keindahan alam dan keanekaragaman hayati yang terdapat di kabupaten ini, Aceh Tenggara merupakan salah satu kabupaten yang memproduksi hasil pertanian melimpah dan diekspor ke luar daerah. Hasil pertanian yang melimpah tersebut terdiri atas kemiri, jagung, padi, sawit, coklat. Penduduk di daerah ini juga banyak membuka kolam ikan mas untuk dijual ke luar daerah.

Potensi sumber wisata alam juga terdapat di sana, di antaranya yang terkenal adalah ketambe, yang menjadi pusat konservasi hutan lindung termasuk semua isi di dalamnya. Daerah ini dikenal sebagai paru–paru dunia dan memiliki pusat wisata untuk raftingtracking yang sangat menantang. Di kabupaten ini pula terdapat dua daerah yang memiliki sumber air panas (hotspring) walaupun tidak terdapat gunung berapi. Dua daerah itu adalah Kecamatan Babul Rahmah tepatnya di Kampung Uning Sigugur dan Kecamatan Ketambe tepatnya di Kampung Lawe Ger-ger.

Wisata air terjun itu dapat dijumpai di Kampung Lawe Dua, Kecamatan Bukit Tusam dan Lawe Sigala–gala. Kawasan wisata ini menawarkan keindahan alam yang sangat menakjubkan. Dapat pula dijumpai sungai yang masih asri dengan air terjunnya yang dikelilingi oleh perbukitan dan hutan yang sangat hijau dan indah.

Ada beberapa aturan masyarakat adat dalam upaya penyelamatan sumber daya alam yang di kabupaten Aceh Tenggara.

  • Dheleng (hutan) sebagai kekayaan imum/kepala mukim bersama rakyatnya di Tanah Alas adalah selebar wilayah kemukiman dengan panjang jauh ke dalam hutan ½ (setengah) hari perjalanan kaki atau hingga dhalan/pasakh mesosen, yang dimanfaatkan tidak merusak, agar aliran air sungai/pakhik jume tetap normal untuk pertanian/bersawah dan keperluan hidup rakyat.
  • Pencuri hasil hutan dan perusakannya (menebang kayu, pengambil rotan, dan produk non kayu tanpa sepengetahuan MAA kampung setempat dan tanpa izin dari imum/kepala mukim) dikenakan sanksi adat menyerahkan seluruh hasil curiannya ke kampung tempat kejadian pelanggaran adat. Pelaku dikenakan denda tiga puluh dua penengah hingga mbelin (Rp320.000-Rp3.200.000).
  • Bagi pengebom, peracun, penyetrum, dan pemusnahan ikan jurung, ciih khemis, dan ciih situ dan jenis ikan lainnya di sepanjang sungai Lawe Alas, sungai-sungai kecil, dan irigasi desa, termasuk seluruh tali air di Tanah Alas dikenakan saksi adat ngateken kesalahen dan ikan tangkapan di luar ketentuan adat tersebut dikembalikan ke MAA setempat serta dikenakan denda tiga puluh dua penengah hingga mbelin (Rp320.000-Rp3.200.000) bagi si pelaku.
  • Seseorang yang mengambil ikan wilayah pinahan (lubuk larangan) dan sejenisnya tanpa izin masyarakat adat yang mengelola secara adat di Tanah Alas dikenakan saksi ngateken kesalahen dan ikan tangkapan tersebut dikembalikan ke MAA kampung setempat untuk diserahkan kepada pemiliknya serta dikenakan denda tiga puluh dua penengah hingga mbelin (Rp320.000-Rp3.200.000).
  • Orang yang mengambil, menangkap, atau memburu satwa liar dan sejenisnya tanpa izin MAA setempat, dikenakan saksi adat ngateken kesalahen dan hasil buruan/tangkapannya tersebut dikembalikan ke MAA setempat untuk diserahkan atau dikembalikan ke habitatnya bila masih hidup, dan dikenakan denda tiga puluh dua penengah hingga mbelin (Rp320.000-Rp3.200.000).

Tulisan ini dimuat di Buletin Tuhoe Edisi XIIMei 2010

Sejarah Perang Gayo di Aceh

Perang Gayo, Sejarah yang Tercecer

Oleh: Hamaaddin, Aman Fatih

Harus kita akui  bahwa dalam beberapa literatur yang mengangkat sejarah perang Aceh, hanya bercerita dan mempublikasikan heroiknya perjuangan rakyat suku Aceh kawasan pesisir saja.  Hanya sedikit yang menyentuh sepak terjang rakyat Gayo. Meletusnya perang Gayo merupakan bias dari perang Aceh. Sebuah catatan sejarah yang harus kita akui bahwa perang Gayo merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah perang Aceh. Tidak lengkap kalau kita berbicara perang Aceh tanpa sedikitpun menyentuh sejarah perang Gayo.

Meletusnya perang Gayo lebih kurang 27 tahun setelah meletusnya perang Aceh di kawasan pesisir  26 Maret 1873 , atau tepatnya di awal tahun 1900-an. Pasukan Belanda mulai menyusun strategi menyerbu tanah Gayo.  Itu dilakukan untuk meredam strategi gerilya jangka panjang yang diterapkan kesultanan Aceh untuk menghindari penangkapan pasukan Belanda. Dan  belantara hutan pengunungan Gayo itulah  benteng terakhir pertahanan kerajaan kesultanan Aceh. Inilah awal meletusnya perang Gayo.Setelah hampir sebagian pesisir daerah Aceh dikuasai pemerintahan Belanda, tentara Belanda mengintensifkan sasaran ke bagian pedalaman Aceh  (Tanah Gayo). Soalnya, daerah tersebut dijadikan tameng tempat berlindungnya para pejuang Aceh yang terus bergerilya. Tentara Belanda telah  dua kali melakukan serangan secara besar – besaran ke tanah Gayo. Pertama, pada tahun 1902 pasukan Belanda di bawah pimpinan Kapten Coliju menyerang tanah Gayo melalui kawasan Isaq, tapi hanya sampai wilayah dekat Burni Intem – Intem. Serangan ini mengalami kegagalan, karena perlawanan yang sengit dan sulitnya medan yang dilalui. Kedua ; pada 8 Februari 1904 di bawah pimpinan Van Daalen, dengan menggunakan 3 buah kapal berkekuatan 10 Brigade Morses dengan 12 perwira terbaik.  Sebelum melakukan penyerangan ke tanah Gayo, penguasa tertinggi kolonial Belanda di Aceh (Sebagai Gubernur Militer Belanda ) Letnan Jenderal J.B. Van Heutsz membentuk Pasukan Marsose (Het Korps Marechaussee) yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Van Daalen. Pasukan khusus ini dibentuk untuk menguasai daerah pedalaman Aceh, termasuk  dataran tinggi  Gayo.

Keberhasilan serangan pasukan Belanda yang kedua ini  berbekal laporan seorang Antropolog berkebangsaan Belanda yaitu C. Snock Hurgronje yang berjudul Het Gayoland En Zijne Bewoners ( Negeri Gayo dan Penduduknya ).

Daerah tanah Gayo merupakan wilayah yang paling terakhir dimasuki Belanda selama menjajah di Nusantara ini. Baru pada tahun 1902, Belanda menginjakkan kakinya di daerah dingin ini. Hal ini pun disebabkan strategi gerilya jangka panjang yang diterapkan Kesultanan Aceh untuk menghindari penangkapan pasukan Belanda. Dan di belantara hutan pengunungan itulah  benteng terakhir pertahanan kerajaan kesultanan Aceh

Sebelumnya rakyat Gayo dengan gigih mempertahankan Aceh dari serangan Belanda. Baik di daerah dataran tingggi tanah Gayo sendiri maupun di daerah pesisir Aceh, terutama di Aceh Timur dan Pase. Perjuangan ini terus berlangsung sampai dengan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik ini.

Tragedi yang terjadi pada tahun 1904 adalah saat Letnan Colonel GCE Van Derlan menggempur Tanah Gayo, yang mengakibatkan 2.500 orang rakyat Gayo tewas. Ini merupakan fakta tertulis dengan tinta emas atas perjuangan Rakyat Gayo.

Tokoh – tokoh perjuangan yang pernah terlibat pertempuran dengan pasukan Belanda di luar maupun di dataran tinggi Tanah Gayo sendiri, sebelum kemerdekaan, antara lain; Tengku Tapa (Mustafa) yang berjuang di Aceh Timur dan Pase antara tahun 1893 sampai 1900.

Inen Mayak Tri yang merupakan srikandi Tanah Gayo (setara dengan kegigihan Tjut Nyak Dhien). Dia  tewas ditembak Belanda di bawah pimpinan Van Heutsz  pada hari Jumat bulan November tahun 1899, di sebuah gubuk di hutan Lukup.

Ada juga Pang Amin atau lebih dikenal dengan sebutan Panglima Perang Amin. Beliau ini berasal dari Belah Gele. Pang Amin menghimpun dan melatih dengan gigih rakyat Gayo untuk menentang penjajahan Kolonialis Belanda.

Aman Njerang, pejuang gagah berani yang 20 tahun  lebih mengembara di belantara hutan tanah Gayo. Beliau syahid pada 3 oktober 1922,  ketika bertempur dengan Marsose di kawasan pegunungan Van Daelen, wilayah Geumpang perbatasan Aceh Tengah dengan Aceh Barat. Pedangnya kemudian dibawa Letnan Jordans ke Belanda. Akhirnya, pedang yang telah berumur sekitar  120 tahun ( setelah 82 tahun berada di Belanda ),  pada hari Jumat (4/3/2003) dikembalikan ke Aceh. Sekarang pedang tersebut tersimpan di museum Aceh.

Masih banyak lagi perjuangan – perjuangan asal negeri ini yang syahid, gugur dalam mempertahankan dan mengusir penjajahan Belanda, seperti Pang Akup, Pang Bedel, Pang Bin, Pang Reben, Pang Ramung dan lain sebagainya.

Masa pendudukan Jepang

Sejak Belanda menginjakkan kakinya di Dataran Tinggi Tanah Gayo pada tahun 1901, daerah ini setiap harinya dibasahi darah para syuhada, yang tidak mau negerinya di kuasai Belanda. Akhirnya, setelah 41 tahun lamanya Belanda menguasai dataran tinggi tanah Gayo, dengan diiringi kedatangan Dai Nipon, pada tahun 1942, Belanda angkat kaki dari wilayah Tanah Gayo itu.

Kedatangan Tentara Dai Nipon atau lebih dikenal dengan sebutan “Saudara Tua” dari timur bukannya melepaskan penderitaan rakyat Gayo. Sebaliknya, penderitaan rakyat bertambah parah. Lepas dari perangkap anjing, masuk ke perangkap harimau.

Kekejaman Tantara Jepang selama menduduki Negeri Dingin ini ( ± 3,5  tahun ), lebih menyakitkan daripada masa penjajahan Hindia Belanda ( ± 350 tahun ). Adanya kerja paksa pembangunan Jalan Takengon – Blangkejeren, Takengon – Bireuen dan lain sebagainya.

Melihat penderitaan rakyat yang telah mencapai puncaknya, pejuang muslimin Gayo yang berpusat di Tedet Kemukiman Samarkilang, di bawah pimpinan Tengku Pang Akob, menyerang pos dan tangsi tantara Jepang pada 2 Mei 1945. Puluhan tantara Jepang tewas secara mengenaskan.

Dibalik penderitaan pada masa pendudukan Jepang, ada beberapa hal yang dipandang positif. Salah satunya, rakyat Gayo  terpaksa untuk meningkatkan kemampuan militer dan keterampilan menenun pakaian.

Berakhirnya masa pendudukan bangsa Jepang, wilayah Tanoh Gayo secara hukum telah merdeka karena daerah ini tidak termasuk dalam wilayah Indonesia berdasarkan perjanjian Linggarjati ( baca 15 Februari 1946 ) poin 1 dengan artian dalam kondisi vacum of power. Begitu juga dengan  Piagam Konsitusi RIS ayat 6,7. Masyarakat Gayo hanya ikut membantu merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Dalam catatan sejarah perang,  Gayo telah 15 kali mengirim para mujahidin ke Medan Area,  Sumatera Utara. Pucak pertempuran yang paling dahsyat dan tercatat dengan tinta emas dalam arsip perjuangan rakyat Gayo adalah pertempuran yang terjadi di Rajamerahe Sukaramai Kandi Bata Tanah Karo.

Dataran tinggi daerah tanoh Gayo merupakan nafas terakhir perjuang rakyat Indonesia dalam mempertahankan republik ini( baca : tempat mengudaranya Radio Rimba Raya ), yaitu dengan lantangnya membantah pemberitaan Radio milik Belanda yang menginformasikan bahwa Indonesia sudah tidak ada.

Radio Rimba Raya ini juga merupakan pemancar gerilya yang menyajikan nyanyian – nyanyian rakyat yang dapat membakar semangat pejuang, bahkan merupakan satu-satunya sarana diplomasi politik Indonesia. Dan Radio ini terus berperan sampai saat pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Pemerintahan Belanda pada 27 Desember 1949 di Jakarta yang merupakan salah satu butir hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag , Belanda.

Penutup
Keagungan jiwa dan semangat perjuangan Rakyat Gayo dalam mempertahankan agama dan Tanah Air  sebelum dan sesudah kemerdekaan, memberi isyarat ketangguhan daya tangkal dan ini merupakan modal bagi Rakyat Gayo untuk mempertahankan kesucian agama dan Tanah Air dari berbagai macam penjajahan.

Semangat dan jiwa itu menjadi modal pula untuk menggalang pembangunan di daerah dataran tinggi tanah Gayo, di era pembangunan nasional dewasa ini, dan di masa yang akan datang.

* Penulis adalah antropolog, guru SMAN 1 Timang Gajah,  dan dosen FISIP Universitas Gajah Putih, Takengon

Sejarah Penjang Weh Peusangan Aceh Tengah

Riwayat Wéh Pesangan

Oleh Yusra Habib Abdul Gani

RIWAYAT penamaan “Wéh Pesangan” (Sungai Pesangan) sebagai muara Danau Laut Tawar, sampai sekarang belum diketahui asbabun nuzulnya. Untuk mengungkapnya, perlu diselidiki lebih dahulu: apakah nama tersebut berlaku mulai dari hulu kampung/Totor Balé sampai kuala di Selat Malaka’? Sebab, lazimnya nama sungai, seperti: Nil di Mesir, Musi di Palembang, Mahakam di Kalimantan Timur; mulai dari hari hulu sampai muara laut bebas, hanya satu nama. Namun begitu, tidak demikian halnya dengan sungai Arve yang mengalir dan berjumpa dengan sungai Rhône di Geneva, Swissland. Dari sini, sungai Rhône terus mengalir hingga melewati tapal batas Swissland dengan Jerman.

Lantas, apakah “Wéh Pesangan” menyerupai kisah sungai Arve yang bemuara ke sungai Rhône atau bahkan lebih dari itu? Kisah di bawah yang bersumber dari lirik Didong, kekeberen dan mitos ini kiranya bisa membantu untuk memberi jawaban sementara.

Danau Laut Tawar yang kandungan airnya dipasok dari: Wéh Kul Kenawat, Wéh Kul Towèren (wéh Kala Nempan), Wéh Kul Rawe, Wéh Kul Kalang, Wéh Kul Nosar, Wéh Kul Mengaya, Wéh Kul Bewang, Wéh Kul Kala Bintang, Wéhni Kala Rengkè, Wéhni Genuren, Wéhni Kala segi, Wéhni Gegarang, Wéhni Kelitu, Wéhni Mendalé, Wéh Kul Kebayaken (Kala Lengkio), Wéhni Kala Mampak; bermuara/tumpah ke sungai “Wéh Pesangan”. Anèhnya, dalam jarak kira-kira 8 km menuju Belang Bebangka, nama “Wéh Pesangan” hilang dan berubah menjadi “Wéh Totor Lukup Badak”, sebagaimana ditemui dalam lirik Didong: “ninget ke ilen kao, waktu kite niri bersesangulen i Lukup Badak”, (Masihkah kau ingat, saat kita mandi di sungai Jembatan Lukup Badak).

Penduduk di kawasan ini hanya mengenal “Wéh Totor Lukup Badak”, bukan “Wéh Pesangan”. Lebih aneh lagi, dalam radius kira-kira 30 km dari Totor Balé menuju Kampung Silih Nara, muncul lagi nama lain dari sungai ini, yakni: “Wéhni Gele” atau “Wih Silih Nara”, bukan “Wéh Pesangan”. Bahkan, kuala sungai ini diberi nama “Kala Laut”.

Karena di tengah-tengahnya terletak sebuah batu besar, maka disebut dengan “Atu Timang” (Batu menimbang). Sampai di sini, nama “Wéh Pesangan” tidak terdengar lagi. Yang dikenal hanyalah “Atu Timang”, yang kerap dipertanyakan di mana letaknya; termasuk Cèh Syèh Midin dalam lirik lagu “Atu Timang” bertanya: “Selama ini kami pekekune isi die “Atu Timang.” (Selama ini kami bertanya-tanya, di mana kiranya “Atu Timang”). Kini terjawab sudah. Bahkan ditimpali dengan lirik Didong: “I Kala laut, Atu Timang, Abang” (Di Kala laut, Atu Timang, Abang).

Siapa pun orang Gayo, bila menyebut “Atu Timang”, akan terbayang kisah/legenda Malim Dewa, sebab; setibanya di lokasi ini;  dalam perjalanan menyusuri air sungai dari Aceh pesisir hingga ke hulu “Wéh Pesangan” dan untuk pertama sekali, Malim Dewa menimbang-nimbang, di mana sesungguhnya letak rambut (sanggul) Putri Bensu yang sudah lama didengar dan diincarnya. Peristiwa “menimbang-nimbang” ini kemudian dikaitkan kemudian dengan pasangan pengantin antara Malim Dewa-Putri Bensu. Jadi, “Atu Timang” merupakan cikal-bakal-prolog-dari cinta mereka dalam mitos “Malim Dewa” yang kisahnya sangat menarik dan rumit, karena untuk mempersunting Putri Bensu, Malim Dewa harus melewati beberapa episode sampai kepada mencuri sanggul Putri Bungsu yang terurai panjang itu.

Selain daripada itu, di “Atu Timang” bertemu antara air “Wéh Pesangan” yang mengalir dari Danau Laut Tawar dengan air “Wéhni Pelang” yang mengalir dari gabungan dari tiga sungai, yaitu: Wéhni Kuyun, Wéhni Celala dan Wéhni Rusip. “Wéhni Pelang” bermuara ke “Wéhni Sikiren”. Di sini nampak jelas bahwa: dari hulu “Wéh Pesangan” (Totor Balé) hingga “Wéhni Sikiren” yang jaraknya sekitar 30 km, sudah terdapat beragam nama.

Dari “Wéhni Sikiren”, air sungai ini mengalir ke “Wéhni Serempah”, terus ke “Wéhni Berawang Gajah” dan selanjutnya ke “Wéhni Jalung”. Sampai di Jalung, aliran sungai ini bergabung dengan “Wéhni Enang-enang” dan yang mengalir ke kampung Pantan Lah (“Wéh Kala lehop”). Dari sini barulah tumpah ke “Kruëng Mané” dan akhirnya bermuara menuju laut lepas, Selat malaka.

Ada dua hal yang menjadi thesa di sini, pertama: munculnya beragam nama di sepanjang sungai ini mengalir. kedua: apakah kata “pasangan”, berasal dari bermulanya kisah cinta antara dua insan Malim Dewa-Putri Bensu di “Atu Timang”, yang kemudian berubah sebutan menjadi “Pesangan” (bahasa Gayo); atau berasal dari kata “Peusangan” (bahasa Aceh)? Sebab sebutannya sangat mirip.

Adalah sah-sah saja orang mengatakan bahwa kata “pesangan” berasal “Peusangan”. Akan tetapi, ianya sama sekali tidak relevan dipakai sebagai standar untuk menunjukkan nama sungai; sebab dalam bahasa Aceh, kata “Peusangan” tidak punya arti apa-apa, kecuali: hanya menunjuk kepada nama satu kampung di Kabupaten Jeumpa, Bireuen-lokasinya jauh dari kawasan Krueng Mané- yang dilewati air “Wéh Pesangan”.

Kemiripan ucapan/sebutan antara “Peusangan” dan “Pesangan”, tidak bisa pula dijadikan dalih bahwa ianya berasal dari kata “Peusangan”. Sebab, antara bahasa Gayo dan Aceh tidak selalu punya kesamaan arti. Misalnya saja, kata: “Bireuen” (bahasa Aceh) tidak punya arti apa-apa, selain nama kota; sementara “Biren” dalam bahasa Gayo berarti: “bayar”. Demikian pula kata: “Tiro” (bahasa Aceh) tidak punya arti apa pun, kecuali: nama kampung di Kabupaten Pidie; sementara kata: “Tiro” dalam bahasa Gayo, berarti “minta”.

Ada kosa kata bahasa Aceh dan Gayo yang mirip sebutan, yakni:  “Luhu” (bahasa Aceh) dan “lehu” (bahasa Gayo) yang keduanya bermakna “Subur”. Tetapi dalam konteks ini, tidak ada relevansinya. Tegasnya, kemiripan sebutan tidak selamanya dapat dipakai sebagai standar untuk menyimpulkan sesuatu.

Dari sudut ilmu linguistik, perubahan sebutan dari “pasangan” kepada “pesangan” lebih logis, sebab relevan dengan kisah perjalanan Malim Dewa. Hal ini bisa disimpulkan dari lirik Didong: “Malem Dewa gèh ari Acih…Mununung waih ku uken-ukenen…ku ukenen pora sawah ku sara kampung oya gerale kampung Sikiren…ku ukenen mien demu urum kala ni lut ton ni wauk ni puteri i timangen..ku ukunen pora ara kampung Angkup, ara kayu rugup tempat dediang..Ku tunung-tunung gere mera sawah kuperah-perah gere mubayang…”. (“Malim Dewa datang dari Aceh, menelusuri sungai menuju ke hulu. ke hulu tibalah di kampung Sikiren. terus ke hulu dan jumpalah Kala laut, tempat menimbang-nimbang rambut Putri, terus ke hulu hingga tiba di kampung Angkup, di sana ada pohon rindang tempat bermain,…kutelusuri tak jua sampai, kucari-cari tak wujud bayangan.”) dan sekaligus memperkuat argumentasi di atas, atau -setidak-tidaknya- membuka ruang bagi kita untuk meneliti dan mengkaji keabsahan riwayat ini. Wallahu’aklam bissawab!

* Penulis adalah Direktor Institute for Ethnics Cvilization Research.

HASRAT HATI

Bila Sudah Tak Mungkin

Hasrat Cinta Menyatu

Walau rasa itu masih ada

Bahkantlah jadi bagian dalam hidupku

Jangan coba tanyakan

Ketulusan cinta ini

Hanya engkou satu harapan

Dan juga satu tujuan dalam hidupku kasih

Biarlah cinta kumelayang jauh

Tiada ragu

Akan kuceritakanada dunia

Rasa cinta yang ada

By zenbupunsu Posted in Lirik

DERAP LANGKAH

semilir angin berhembus

membawaku pada hayalan tingkat tinggi

mengenang kisah yang lalu

yang selalu mengusik

menggangu

masih terkenang

jalan yang penuh duri

kudaki dengan asa yang ada

menggapai secercah harapan

menuju impian yang gemilang

namun…

batu  cadas mulai berubah

lumut-lumut menghiasi permukaanya

licin

jalanku terseok-seok

dan hampir hilang arah

tapi….

aku terus berjalan dengan tertaih

satu tujuan yang harus kucapai

dengan segenap kemampuan

kulawan semua rintangan

mengarungi samudra kehidupan.

By zenbupunsu Posted in puisi

PROFIL KAMPUNG KUTE GELIME KECAMATAN KETOL KABUPATEN ACEH TENGAH


 

 

  1. 1.      Geografi Kampung
  • Luas Wilayah               : 500 Km2
  • Batas Wilayah             :
    • Sebelah Utara berbatasan dengan Kampung Genting Bulen dan Selun
    • Sebelah Selatan berbatasan dengan Kampung Bah
    • Sebelah Timur berbatasan dengan Kampung Blang Mancung
    • Sebelah Barat berbatasan dengan Kampung Cangduri.
  • Ketinggian                   : 825 M, Dari permukaan laut
  • Topografi                    :
  • Orbitasi                       :
    • Jarak dari kantor camat         : 2,9 Km
    • Dari kabupaten                       : 21,5 Km
    • Dari provensi                          :-
  1. 2.      Pertanahan

Aset Kampung                         : 4,5 ha

 

  1. 3.      Kependudukan
  • Jumlah Penduduk
    • Laki-laki           : 250
    • Perempuan     : 301
    • Jumlah             : 501 Jiwa
    • Jumlah KK        : 172 KK
  • Jumlah Penduduk Menurut Agama
    • Islam               : 501 Jiwa
    • Non Islam        : -
  • Jumlah Penduduk Menurut Usia
    • 0-15 Thn          : 153
    • 16-30thn          : 138
    • 31-45 Thn        : 119
    • 46-60 Thn        : 86
    • 60+                  : 5
  • Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan
    • TK                    : -
    • SD                    : 134
    • SMP                 : 150
    • SMA                 :119
    • D-III                 : 41
    • S-I                    : 23
    • S-2                   : -

 

 

  • Jumlah Penduduk berdasarkan Mata Pencahariannya
    • Pedagang        : 7 orang
    • Petani              : 337 Orang
    • PNS                  : 64 orang
    • TNI/Polri          : 3 orang

 

  1. 4.      Perangkat Kampung
  • Kepala Kampung         : AlPIAN
  • Sekdes                         : SYAFARUDDIN
  • Kaur Umum/Bendahara: Muhammad Saleh
  • Kaur Pemerintahan     : ABDUL MUTHALIB
  • Kaur Kesra                   : SYHARUDDIN ZEN, S.Pd
  • Imem Kampung          : Abu Bakar
  • Ketua BPK                    : Sukri, A.Md
  • Jumlah  Anggota BPK  : 10 Orang

 

  1. 5.      Lembaga Masyarakat
  • Karang Taruna                        :
    • Ketua               : Zailani
    • Sekretaris        : Riswandi
    • Bendahara      : Rasyid Yoga
  • PKK                              :
    • Ketua               : Asiah
    • Sekretaris        : Fatimah, S.Pd
    • Bendahara      : Jumini

 

  1. 6.      Peraturan Kampung
  • Jumlah Qanun kampung: 3 Butir Qanun
  1. 7.      PBB
  • Jumlah Wajib Pajak    :-
  • Target                         : -
  • Realisasi                      : -
  1. 8.      Keuangan Kampung
  • PA Kampung                :Rp. 7.800.000,-
  • Bantuan Kabupaten ADK: Rp. 15.000.000,-
  • Bantuan provensi BKPG: Rp. 60.000.000,-

 

  1. 9.      Pembangunan
  • Swadaya Masyarakat  : Pembangunan Masjid Al Istiqamah

: Pambangunan Lapangan Badminton

  • APBK                            : Pembuatan Lapangan Bola Kaki
  • APBA                           : Irigasi

: Pembangunan TPA

: Pembangunan Polindes

: Pembangunan Jalan Perintis

  • APBN                           : -
  1. 10.  Keamananan
  • Jumlah anggota Linmas: 9 Orang

 

  1. 11.  Peribadatan
  • Masjid                         : 1
  • Menasah                     :4

 

  1. 12.  Pendidikan
  • Tk/PAUD                      : -
  • TPA                              : 1
  • SD                                : 1
  • SMP                             : -
  • SMA                             : -

 

  1. 13.  Kesehatan                             
  • Pustu                           : -
  • Polindes                       : 1
  • Puskesmas                   : -
  • RS swasta                    : -
By zenbupunsu Posted in adat